Dokter Indonesia, ke Mana Aku?

Berita kedaluwarsa yang ringan itu menyebutkan bahwa rumah sakit di Singapura dipenuhi pasien dari Indonesia. Tetapi, tidak banyak atau bahkan tidak ada pasien negara tetangga yang berobat ke Indonesia. Ternyata, kita bukan saja mengekspor TKI, tetapi juga mengekspor pasien.

Beberapa waktu lalu, laporan khusus majalah Tempo menyatakan bahwa orang sakit biasa saja menjadi komoditas ekonomi. Mulai 2012, Singapura Medicine menargetkan sejuta pasien dari luar negeri berobat di sana.

Kini, kalau dipukul rata, baru 200 ribu pasien asing (45 persen dari Indonesia) yang berobat di Singapura. Peningkatan jumlah pasien Indonesia yang berobat ke negeri tetangga itu menyulut banyak pertanyaan.

Benarkah kualitas pelayanan rumah sakit dan dokter di Indonesia lebih rendah? Ada apa dokter Indonesia? Entahlah. Kita tidak tahu persis. Namun, harus diakui, negeri pulau tesebut sukses dengan program pelayanan kesehatan. Rasio dokter: penduduk di Singapura (1:700) yang setara dengan Amerika Serikat itu (1:500), ternyata jauh lebih rendah daripada di Malaysia (1:2.000) dan Indonesia (1:6.000) (Tempo, September 2007).

Semula kita menduga, orang-orang yang berobat ke luar negeri hanyalah orang-orang bergaya cuma karena banyak uang. Namun, cerita seorang sahabat berduit yang bersahaja, tetapi tidak bergaya, menggeser pandangan kita.

Misalnya, penderita kanker ganas dengan keinginan sembuh yang jauh melampaui keingginannya untuk bergaya itu, suatu ketika bertandang kepada seorang dokter yang merasa paling jago di kotanya. Dokter itu bukan saja tidak merasa perlu membaca seluruh hasil laboratorium yang dibawa, tapi lebih dari itu, dia merendahkan pasiennya.

Dia merasa ahli karena hanya dengan satu lirikan dirinya yakin dapat memahami penyakit pasien. Untuk itu, dia merasa punya hak untuk merendahkan pasien yang membayarnya. Ini sungguh luar biasa!

Dokter itu jelas keliru. Sebab, betapapun ganasnya sakit kanker, tak sebanding dengan sakit hati yang dibuatnya. Akhirnya, sahabat tersebut meninggalkan dokter dengan kemarahan yang membahana, yang mendorongnya mencari kawan senasib yang juga terdera kemarahan yang sama.

Dalam hal itu, tokoh dokter kita itu ternyata amat mahir menyakitkan hati pasiennya. Ketika pasien menangis kesakitan, dia malah menghardik. ”Tak usah menangis, kalau tidak sembuh paling juga mati,” kata sahabat saya itu menirukan kata-kata dokter yang memang akan dia kenang hingga mati.

Bahkan, dalam hatinya berjanji, bila mati rohnya gentayangan dan mengecup ubun-ubun sang dokter yang menyakitinya. Rombongan pasien sakit hati itulah yang sekarang memilih rumah sakit Singapura untuk mencari penyembuhan yang benar-benar menyembuhkan, tanpa menyisakan kemarahan. Dokter yang pintar-pintar itu bersedia membaca dengan teliti hasil laboratorium yang dibawa.

Segera setelah masuk ruang pemeriksaan, energi kesembuhan terasa mengalir deras dari aroma keramahan yang merebak di seluruh ruangan. Singkat kata, dokter di Singapura itu bukan saja mengobati, tetapi lebih jauh lagi memberikan hiburan pelipur lara. Padahal, semua keramahan itu harus dibayar sehingga tidak ada yang aneh.

Bukan hanya itu, seluruh staf hotel, dari manajer hingga cleaning service, menampilkan keramahan yang mengagumkan. Namun, hati-hati, mereka segera akan menendang pasien keluar ruangan jika ketahuan menginap tidak membayar. Keramahan di Singapura itu adalah masalah sederhana untuk sebuah imbalan pembayaran yang sesuai.

Begitu halnya dengan seorang ilmuwan akan menjadi amat ramah kepada siapa pun jika tahu bahwa ceramah ilmiahnya dibayar tinggi. Tidak cuma ramah, bahkan dia bersedia menampilkan sikap yang mulia. Namun, jika hanya dibayar dengan ucapan terima kasih plus plakat dan piagam, dia siap menjadi orang yang paling kecewa di dunia.

Prosedur Standar

Dengan demikan, keramahan dokter di Singapura bukanlah sesuatu yang aneh dan istimewa. Dia hanya menjalani prosedur standar yang sengaja diciptakan untuk menarik minat orang banyak. Dokter yang dibayar, tetapi menghina pembayarnya mungkin saja mampu mengobati kanker, tetapi untuk apa jika hanya meninggalkan luka dihati yang jauh lebih berbahaya.

Dokter seperti itu pasti sedang mengalami intoksikasi logika. Sudah bersikap angkuh, minta dibayar pula. Jangan-jangan sudah angkuh, minta dibayar, masih gagal menyembuhkan pula. Sebetulnya angkuh tidak mengapa asal gratis. Anggap saja impas. Ini tidak. Sudah sakit, disakiti, diminta untuk membayar pula. Luar biasa!

Dokter seperti itu berperan dalam membuat negara semakin miskin karena merangsang orang menghamburkan devisa yang menyebabkan capital flight. Di tengah kondisi negara yang prihatin seperti sekarang, dokter seperti itu layak disejajarkan dengan penjahat negara. Maka, sangkaan semula bahwa orang yang berobat ke luar negeri itu angkuh tidak terbukti. Sesungguhnya, mereka adalah orang-orang yang terluka di negeri sendiri.

Kita mungkin perlu belajar “ramah” dari dokter Singapura. Bukan saja karena dibayar pantas, tetapi jauh dari itu, ramah karena ikhlas. Jika tidak, kita harus bersedia menerima jamaah strata ekonomi menengah atas berbondong-bondong berobat ke luar negeri.

* Pribakti B ., dokter juga staf pengajar di Fakultas Kedokteran Unlam, Banjarmasin

One Response

  1. sebagai salah satu pemerhati dunia kesehatan dan juga seorang mahasiswa di salah satu akademi kesehatan.
    Saya juga merasa sangat miris melihat keadaan dimana banyak dokter yang hanya memeriksa keadaan biologis pasien tanpa memeriksa keadaan fisiologis pasien.Hanya sebuah hasil laporan medik yang terucap tanpa ada sapaan maupun perhatian terhadap pasien. Akan tetapi tak sedikit pula dokter yang rela meluangkan waktu untuk hanya sekadar bersua dengan pasien.Bahkan ada dokter yang sampai ikut mengangkat mayat pasiennya . Akankah semua dokter akan memperlakukan hal itu.Mungkin hanya kenyataan yang menjawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: