Weleh-weleh, Setelah STPDN sekarang STIP, Video Kekerasan STIP

Kekerasan di kampus terutama antara senior dengan junior selalu identik dengan STPDN. Sekarang jika kita mendengar kata kekerasan di kampus, langsung pikiran kita tertuju pada sekolah penempa calon praja tersebut, karena akhir-akhir ini pemberitaan yang fenomenal tersebut selalu mengarah pada kampus yang berlokasi di Jatinangor itu. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama setelah terbongkarnya aksi kekerasan antara senior kepada junior di kampus STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran). Pagi tadi waktu nonton nuansa pagi RCTI ditampilkan video amatir yang dikirim oleh pemirsa Nuansa Pagi RCTI. Serupa dengan kekerasan yang terjadi di STPDN, di STIP pun pemukulan di anggota badan dilakukan kepada junior oleh seniornya dan kejadian “latih fisik” ini tidak diketahui oleh pengurus.

Dunia Pendidikan kembali lagi berduka, kini bertambah lagi daftar kampus yang tercoreng akibat buruknya sistem pendidikan. Inikah potret pendidikan kita? Kekerasan, premanisme, geng-gengan mewarnai berkembangnya dunia pendidikan akhir-akhir ini.

Memang untuk sekolah sejenis STPDN, STIP, Akpol dan sejenisnya, ciri khas kedisplinan tinggi tidak bisa ditinggalakan begitu saja. Disiplin harus menempel dalam jiwa para murid dan mahasiswanya. Dulu waktu SMU saya bersekolah yang menerapkan kedisiplinan yang tinggi, tapi disini hukuman fisik berupa pemukulan tidak boleh dilakukan baik oleh guru maupun senior. Kalo kami bersalah karena terlambat semenit saja, atau melakukan gerakan yang tidak penting pada waktu upacara, tidak mengerjakan tugas, dan pelanggaran-pelanggaran lain, hukuman yang biasanya diberikan kayak push up, lari keliling lapangan, hormat bendera…dan hukuman tersebut saya rasa udah cukup buat jera juga, karena tiap murid punya malu ketika mereka harus menerima hukuman, dan berharap kalo perbuatan tersebut tidak terulang lagi. Akhirnya kami bisa belajar untuk kedisiplinan.

Lalu buat apa pemukulan-pemukulan tersebut, saya rasa hanya sebuah ajang untuk menunjukan kesenioritasan dan ke-eksisan suatu kelompok dalam lingkungan kampus tersebut.

Jika sebelumnya tradisi tersebut adalah memang suatu “upacara” yang harus dilakukan dan adalah suatu hal yang biasa di lingkungan kampus mereka, tetapi setelah ter-ekspos media dan mencatut nama sekolah, “upacara” yang selama ini mereka lakukan justru menjadi boomerang..

Kalo sudah begini, yang malu bukannya yang dihukum tapi eksekutornya atau penghukumnya

Inilah video amatir kekerasan di sekolah tinggi ilmu pelayaran (STIP) Jakarta, terjadi pada Juli 2006, pukul 00.00 – 02.00 WIB. Aksi taruna senior berisiko cidera hingga kematian bagi juniornya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: