Indonesian Idol: Star Quality Versus Suara dan Tampang

Wah…wah… akhirnya Indonesia Idol (II) dimulai juga nich. Acara pencarian bakat terbesar di Indonesia kali ini agak merata deh yang ikut karena pencariannya sampai ke pelosok-pelosok Indonesia. Dan sepertinya kali ini banyak pengamen yang mengadu nasib di II. Beberapa di antaranya OK punya, lho. Banyak juga yang ikut dari berbagai profesi, dari polisi sampai guru. Pokoknya lengkap. Tapi sayangnya banyak dari mereka yang berbakat itu penampilan nga oke, tidak memiliki tampang yang mendukung dan star Quality, alias kurang aura bintang. Mungkin ada yang bilang banyak faktor yang menentukan kesuksesan seseorang, jadi jangan pesimis dulu, lihat aja Norwegian Idol, wajahnya jauh dari star quality, tapi akhirnya jadi jawara. Clay Aiken yang tadinya adalah “nerd” (kutu buku), berkat teknologi “make over”, bisa jadi bintang.

Memang itu benar, tapi kita jangan lihat kesuksesan yang sekarang, tapi lihat kesuksesan jangka panjangnya. Star Quality plus tampang harus dimiliki seorang II karena kalau tidak, kesuksesannya paling-paling cuma mencapai “rata-rata” atau cuma sekejap. Contohnya: Juara II season 1, Joy Tobing. Walaupun suaranya bagus, tapi karena wajahnya “kurang menjual”, akhirnya kalah sama Delon yang wajahnya jelas-jelas keren. Suara jadi dianggap nomor dua daripada tampang. Kalau tidak percaya lihat aja Asian Idol, padahal kita tahu bahwa suara Hadi Mirza jauh dibandingkan Mike Mohede dan Jacklyn Victor, dan Mau. Lihat aja, banyak penyanyi di Indonesia atau di Barat rela operasi plastik untuk memperbaiki tampang. Apa boleh buat, faktor tampang memang jauh lebih menjual daripada suara.

Lihat aja di Amerika, juara American Idol season 5, Taylor Hicks ternyata sudah dilepas oleh labelnya karena penjualan albumnya jauh dari yang diharapkan. Tampang dia kalau dibilang ‘kan tampang “bapak-bapak” karena rambutnya putih semua walaupun baru tiga puluh tahun. Dan ternyata Ruben Studdard juga sudah dilepas sama labelnya karena penjualannya menurun dibanding album pertama. Kalau ditarik-tarik, yah paling-paling karena tampang kurang menjual. Juara American Idol Season 6 Jordin Sparks penjualan albumnya baru 600.000 kopi, padahal tampangnya lumayan, tapi mungkin star qualitynya agak kurang. Padahal juara American Idol season 1 dan 4, Kelly Clarkson dan Carrie Underwood, – kedua-duanya jelas punya star quality dan tampang yang mendukung – udah dapet Grammy. Contoh penyanyi yang tampang dan Star qualitynya besar serta memiliki suara emas adalah Whitney Houston. Sampai sekarang, walaupun dia sudah terpuruk karena kehidupan pribadinya yang terjebak dengan obat-obatnya, lagu-lagu yang dinyanyiin oleh dia masih aja tetap bertahan. Bahkan kalo ada kontestan American Idol yang berani nyanyiin lagu Whitney, harus siap-siap terima kritikan karena akan dibandingin sama aslinya.

Memang sih, nga 100 persen seperti itu, tapi pada dasarnya memang star quality dan tampang dibutuhkan banget untuk terus sukses. Jadi, pemenang II belum tentu akan meledak penjualan albumnya, bisa aja dia menang karena pada saat itu menarik simpati. Contohnya Ihsan, kayaknya dia kalah deh sama Dirly dalam soal popularitasnya sekarang ini. Tampang Dirly jelas lebih menjual dibanding Ihsan. Dan juara II, Rini juga sama, tidak terlalu oke juga tuh kayaknya. Walaupun suaranya bagus, tapi Star Qualitynya masih jauh dari harapan.

Walaupun demikian, Star Quality bisa mengalahkan faktor tampang. Walaupun seseorang tidak memiliki tampang yang keren, tapi kalau ada star quality, maka ia akan tetap exist. Contohnya Melly Goeslaw. Walau tampang kurang, tapi star qualitynya ada. Seal, Phil Collin, dan masih banyak lagi. Tapi kita tidak bisa memungkiri, tampang memegang peranan penting. Jadi kalo bisa, juara II harus punya tampang keren dan star quality plus suara emas, dijamin pasti langgeng dan albumnya terjual habis, dan pasti akan menang Asian Idol.

So, untuk para kontestan II yang tampangnya kurang, masih ada kesempatan karena kalau kamu punya star quality dan suara, paling tidak bisa melaju sampai 6 besar. Kalo bisa, para penonton harus pilih yang suaranya bagus, bukan karena tampang. Dan jangan vote karena dia dari daerah kamu, karena artinya itu sudah tidak obyektif lagi. Kita ‘kan tidak mau Indonesian Idol kualitasnya buruk. Kita harus sadar bahwa Indonesia Idol itu mewakili negara, bukan propinsi atau daerah tertentu. Bahkan kalau bisa pilih yang punya star quality, tampang, dan yang terpenting suara harus oke. Betul tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: